Komoditas Yang Wajib Ditelusuri insvestor

Komoditas Yang Wajib Ditelusuri insvestor

Komoditas Yang Wajib Ditelusuri insvestor – Tampaknya bukan tahun yang baik bagi instrumen komoditas di 2018 lalu. dan di tahun 2019 ada beberapa hal penting yang dapat berpengaruh besar terhadap sektor komoditas. Hal tersebut misalnya hubungan dagang Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, kebijakan suku bunga The Fed, kondisi cuaca, supply demand, dan lain-lain. jadi Bagaimana pengaruhnya terhadap komoditas yang sudah ada?

Sektor Energi

Sektor Energi

Bank dunia memproyeksikan harga minyak naik menuju US$74/bbl pada tahun 2019 sebelum melemah ke kisaran US$69/bbl di tahun 2020. Sementara batu bara dan gas alam didukung oleh permintaan yang tinggi di Asia dan Eropa sebagai akibat dari suhu panas yang lebih dari biasanya. Diprediksi harga keduanya berada pada kondisi stabil.

Minyak Mentah

Minyak Mentah

Di awal tahun 2019 ini negara-negara penghasil minyak yang tergabung dalam Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) telah melakukan pengurangan sebesar 0,5 juta barel produksi minyak harian.

Hal ini terjadi bahkan lebih awal sebelum kesepakatan yang semestinya baru dilakukan pada bulan Januari 2019. Nilai pengurangan produksi minyak ini bahkan menjadi yang terbesar dalam 2 tahun terakhir.

Kesepakatan ini ditanggapi cepat oleh pasar. Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk bulan Februari 2019 naik sebesar US$1,13 atau kira-kira 2,5% ke harga US$46,54 di New York Mercantile Exchange. Sebelumnya harga minyak WTI sempat turun hingga US$44.

Selain itu Presiden AS, Donald Trump memberikan angin segar untuk perekonomian dunia dengan berusaha membuat pertemuan untuk membahas kesepakatan perdagangan dengan negara Tiongkok dan melakukan gencatan senjata selama 3 bulan ke depan.

Kedua presiden negara super power ini sama-sama optimis akan segera mencapai kesepakatan dagang yang bisa mendamaikan hubungan mereka. Dengan sinyal perdamaian dan pengurangan produksi minyak, pada tahun 2019 diprediksi terjadi rebound terhadap harga minyak mentah.

Logam Mulia

Logam Mulia

Pasar logam mulia sangat terpengaruh dengan kebijakan The Fed mengenai suku bunga. Pada saat tahun 2018, dolar AS terapresiasi (menguat) sehingga harga emas semakin mahal di negara konsumen emas terbesar dunia seperti Tiongkok, Iran, Turki dan India.

Penguatan dolar AS menghapus kilau emas dan terlebih lagi terjadi pengetatan kebijakan moneter ekonomi AS. Selain itu pertumbuhan ekonomi Tiongkok dan India berbanding lurus dengan permintaan emas.

Pada tahun 2019 ini diperkirakan trend dolar AS mulai melemah. Menurut analis Goldman Sachs, jika pertumbuhan ekonomi di AS melambat diperkirakan permintaan emas meningkat sebagai safe haven.

Biasanya pergerakan harga perak dan palladium akan mengikuti harga emas yang memimpin arah harga sektor logam mulia. Banyak analis memperkirakan bahwa emas diprediksi stabil cenderung menguat di awal tahun 2019.

Baca Juga :
dampak perang dagang ke indonesia
membahas peningkatan ekspor 2019
perdagangan penuh drama ditahun 2019

Jika harga emas di awal tahun 2019 di bawah US$1.200/oz maka diprediksi harga akan turun terus. Harga netral berada di kisaran US$1.200-1.275. Di atas US$1.275 maka harga dianggap bullish.

Sedangkan jika di 2019 dapat melampaui harga US$1.375 maka disimpulkan sebagai strong bullish. Jika hal ini terjadi maka target harga berikutnya di tahun 2020 sebesar US$1.550/oz. Sebaliknya jika harga turun menembus US$1.200 maka level rendah berikutnya sebesar US$1.050.

Sektor Agrikultur

Sektor Agrikultur

Ketersediaan dan permintaan komoditas agrikultur sangat terpengaruh dengan ketidakstabilan cuaca dan diversifikasi komoditas pangan. Beberapa faktor lain yang berpengaruh yaitu volatilitas harga minyak yang mempengaruhi biaya produksi dan distribusi, konflik perang dagang 2 negara adidaya dunia, kebijakan domestik negara penghasil suatu komoditas, pergerakan dolar AS, dan sebagainya.

Perang dagang antara Tiongkok dan AS benar-benar berpengaruh terhadap komoditas pertanian, Akhir-akhir ini Negara Tiongkok memberlakukan pajak terhadap kedelai import dari AS.

Namun secara jangka panjang belum tentu efeknya bertahan karena saat ini masyarakat Tiongkok juga melakukan diversifikasi makanan pengganti kedelai seperti jagung untuk pakan ternak dan minyak biji bunga rape untuk mengganti minyak kedelai.

Di sisi makro ekonomi, penguatan dolar AS menekan harga komoditas semakin turun. Histori menunjukkan bahwa kenaikan dolar AS sebesar 10% terhadap mata uang utama dunia akan menurunkan harga komoditas sebesar 5%.

Secara teknis, komoditas agrikultural yang akan mengalami trend bullish adalah gandum dan kakao. Keduanya melanjutkan kenaikan sejak tahun 2018 setelah mengalami penurunan hingga titik nadirnya di beberapa tahun sebelumnya.

Komoditas Pilihan

Komoditas Pilihan

Dengan kondisi makro ekonomi dunia saat ini, sektor komoditas diperkirakan dapat memberikan potensi profit yang optimal pada berbagai instrumen komoditas yang dilakukan.

Tidak terkecuali pada kontrak berjangka, namun juga pada pasar fisik dan saham berbasis komoditas. Karena secara umum banyak analis yang memprediksi komoditas akan mengalami trend bullish.

Related posts