Komoditas Pengembangan Jagung dan Kedelai

Komoditas Pengembangan Jagung dan Kedelai – Jagung dan kedelai merupakan bahan pangan yang sangat banyak di butuhkan dan di cari orang untuk membuat sesuatu. Berikut ini adalah berita mengenai pengembangan jagung dan kedelai yang harus kamu ketahui

Jagung dan kedelai termasuk ke dalam jenis palawija yang digunakan sebagai sumber makanan pokok bagi ternak, bahan baku industri dan sisa hijauannya dapat digunakan untuk menyuburkan tanah. Jagung dan kedelai merupakan komoditas strategis kedua dan ketiga setelah komoditas padi (Bappenas, 2014).

Selama ini, BPS secara rutin produktivitas jagung dan kedelai melalui Survei Ubinan. Hasil survei Ubinan 2020 menunjukkan bahwa 71,4% rumah tangga jagung membudidayakan tanamannya di lahan bukan sawah, sedangkan 60% rumah tangga kedelai membudidayakan tanamannya di lahan sawah, baik sawah irigasi maupun non-irigasi.

Komoditas Pengembangan Jagung dan Kedelai

Jenis lahan pertanian mempengaruhi tinggi rendahnya produktivitas. Produktivitas jagung lebih tinggi apabila ditanam di lahan bukan sawah, sedangkan produktivitas kedelai lebih tinggi apabila ditanam di lahan sawah karena tanaman kedelai sangat rentan dengan kekeringan.

Secara nasional rata-rata produktivitas jagung 2020 adalah 54,74 ku/ha dengan rincian Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan dan Lampung memiliki produktivitas yang tinggi di atas 60 ku/ha dan yang paling rendah adalah Provinsi NTT.
Sementara pada kedelai, secara nasional rata-rata produktivitas kedelai 2020 adalah 15,69 ku/ha dengan rincian provinsi Sulawesi Barat memiliki produktivitas yang tinggi di atas 20 ku/ha, sebagian besar provinsi di Pulau Jawa memiliki rata-rata produktivitas 15,01 sampai 20,00 ku/ha dan yang cukup rendah di bawah 10 ku/ha adalah Provinsi Sumatera Utara, Kalimantan Barat, NTT, Papua Barat dan Papua.

Baca Juga :Tindakan Pemerintah diKala Harga Komoditas Melonjak

Hasil Survei Ubinan 2020 BPS menunjukkan bahwa lebih dari 80% rumah tangga jagung dan menyatakan tidak terkena dampak perubahan iklim. Tanaman jagung dan kedelai yang tidak terkena dampak perubahan iklim memiliki produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan yang terkena dampak.

Peran air juga sangat penting bagi kesuburan lahan dan pertumbuhan tanaman. Kondisi geografis Indonesia yang beragam membuat ketersediaan air untuk lahan pertanian di setiap wilayah Indonesia memiliki perbedaan. Hasil Survei Ubinan 2020 menunjukkan bahwa rumah tangga jagung dengan tingkat kecukupan air yang ‘cukup’ memiliki rata-rata produktivitas yang paling tinggi (58,34 ku/ha) dibandingkan dengan rumah tangga yang kecukupan airnya ‘kurang’ (50,05 ku/ha) dan ‘berlebih’ (55,47 ku/ha).