Kenaikan harga Dollar AS bantu harga kacang Kedelai Naik

Penurunan harga Dollar As bantu harga kacang kedelai turun

daftarhargakomoditas.web.id – Harga dollar AS melemah ,mengakibakan harga komoditi seperti kacang kedelai di indonesia naik Rp. 200 perkilogramya.

Kini kedelai kualitas nomor satu dijual pihak distributor dengan harga Rp 8.100/kg dari sebelumnya Rp 7.900/kg. Sedangkan kualitas nomor dua dibanderol Rp 7.800/kg dari Rp 7.500/kg. “Dampaknya ada (dolar melonjak), tiga hari terakhir ini harga kacang kedelai sudah naik,” ujar Pupung Hermawan pedagang kedelai saat di temui di tokonya, Purwakarta.

Kedelai yang dijual di toko Pupung ini impor dari AS. Otomatis, saat dolar AS naik, harga kedelai ikut naik. Meski dolar AS naik, Pupung tidak menambah pasokan lantaran khawatir nilai tukar fluktuatif. “Saya tidak mau ambil risiko. Jika beli kacang saat harga dolar turun, kemudian naik oke dapat untung. Khawatirnya jika menambah stok saat dolar tinggi tapi nilai dolar turun, kita yang rugi,” katanya.

Meski demikian, transaksi di toko milik Pupung masih normal. “Murah atau mahal tetap dibeli, tapi akan berdampak pada perajin tahu-tempe, ya menaikkan harga atau memperkecil ukuran,” katanya. Sementara di Jakarta Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menjanjikan harga biji kedelai impor tidak naik meski dolar AS hingga terus menguat. “Soal harga kedelai ya, nggak ada kenaikan harga,” katanya di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Dia menjelaskan, ada beberapa alasan pihaknya memilih untuk bekerjasama dengan Amerika. Satu di antaranya yaitu kesepakatan mengenai harga kedelai yang tidak akan naik seiring dengan fluktuasi harga dolar AS. Sebagai informasi, hingga Kamis (6/9), dolar AS terpantau bergerak pada level 14.880. Angka ini turun setelah kemarin dolar AS berada di level Rp 14.999. Dari pelemahan harga rupiah ini ditakutkan akan berimbas pada berbagai sektor perekonomian di dalam negeri termasuk harga pangan.

Enggar mengaku akan segera berkomunikasi dengan pihak importir kedelai.

Baca Juga :

“Nah ya kan, karena mereka ada trade war. Para distributor, para pedagang, para importir, kemudian para penjual kedelai itu mereka sudah berjanji untuk tidak menaikkan dengan pendekatan nilai kurs, karena dia tahu nilai marketnya. Saya belum ter-update apakah benar kenaikannya seperti itu. Saya nanti akan telepon mereka dan mereka akan naikan berapa atas dasar apa kenaikannya,” katanya.

Sebagai informasi, kedelai untuk produksi tempe di Indonesia secara keseluruhan menggunakan bahan baku impor. Pada Maret 2017 jumlah impor komoditas ini sebanyak 207,8 ribu ton dengan nilai US$ 92,6 juta. Kemudian di April 2017 mengalami peningkatan dengan volume menjadi 242,2 ribu ton dengan nilai US$ 108,0 juta.

Jika dirinci berdasarkan negara asal, Indonesia mengimpor kedelai dari beberapa negara antara lain Amerika Serikat, Kanada, dan Malaysia.

Related posts