Kenaikan Ekspor Di Bulan Juni Buka Peluang Kirim Ke Jepang

Kenaikan Ekspor Di Bulan Juni Buka Peluang Kirim Ke Jepang

daftarhargakomoditas.web.id Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Kenaikan Ekspor Di Bulan Juni Buka Peluang Kirim Ke Jepang.Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Kenaikan Ekspor Di Bulan Juni Buka Peluang Kirim Ke Jepang.Beberapa artikel yang akan kami sajikan untuk anda kali ini ,bisa sangat membantu apabila anda ingin mencari informasi yang berikaitan mengenai Kenaikan Ekspor Di Bulan Juni Buka Peluang Kirim Ke Jepang.Berikut ini akan kami berikan beberapa ulasan dan pembahasan yang berkaitan mengenai Kenaikan Ekspor Di Bulan Juni Buka Peluang Kirim Ke Jepang.Dan dalam kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang membahas dan mengulas mengenai Kenaikan Ekspor Di Bulan Juni Buka Peluang Kirim Ke Jepang

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Srie Agustina menyatakan, Indonesia berpeluang besar untuk memenuhi pasokan kebutuhan biomassa yang dibutuhkan Jepang.

Peluang ini terbuka sejalan dengan pencanangan kebijakan energi ramah lingkungan (green energy) oleh Pemerintah Jepang.Melalui Basic Energy Plan 2030 negeri sakura ini menargetkan produksi listrik sebesar 1.065 Twh. Dalam kebijakan tersebut, 3,7 sampai 4,6 persen sumber energinya berasal dari bahan baku biomassa.

“Revolusi proyek-proyek pembangkit energi di Jepang ke sektor energi terbarukan yang banyak terjadi saat ini membutuhkan pemenuhan pasokan bahan baku biomassa. Ini membuka peluang bagi Indonesia sebagai negara yang memiliki potensi hutan dan penghasil minyak kelapa sawit (palm oil) terbesar dunia, untuk mengisi kebutuhan biomassa di Jepang, khususnya yang berasal dari cangkang sawit (palm kernel shell/PKS) dan pelet kayu (wood pellet),” ujar dia dalam pernyataan, Rabu (15/7).

Srie menjelaskan, Jepang merupakan salah satu negara yang konsisten meningkatkan penggunaan sumber energi terbarukan, terutama sejak bencana nuklir yang terjadi di Fukushima pada 2011.Sehingga pemerintah setempat mendorong penggunaan energi terbarukan dalam skala besar dengan kebijakan Feed in Tariff System (FIT) yang diperkenalkan sejak delapan tahun lalu.

Dengan skema tersebut, pemerintah Jepang mewajibkan perusahaan listrik membeli listrik dari sumber energi terbarukan, baik yang berasal dari angin, tenaga surya, dan biomassa dengan tarif sama selama 20 tahun.

Kebijakan insentif yang diberikan pemerintah Jepang melalui FIT telah membuat siklus investasi ke sektor energi terbarukan mengalami peningkatan yang masif.

Oleh karenanya, agar berpeluang ekspor biomassa Indonesia di pasar Jepang, perwakilan perdagangan Indonesia di Jepang melalui Atase Perdagangan KBRI Tokyo bekerja sama dengan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Osaka untuk memberikan pembaruan informasi pasar biomassa Jepang. Khususnya di era pandemi Covid-19, kepada para eksportir Indonesia.

“Sebaliknya, importir Jepang juga memberikan gambaran dan masukan positif bagi pengembangan pasar ekspor produk biomassa Indonesia,” imbuhnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan nilai impor Indonesia Juni 2020 mencapai USD 10,76 miliar atau naik 27,56 persen dibandingkan Mei 2020. Namun demikian, dibandingkan Juni 2019 turun 6,36 persen.

“Impor migas Juni 2020 senilai USD 0,68 miliar atau naik 2,98 persen dibandingkan Mei 2020, namun dibandingkan Juni 2019 turun 60,47 persen,” terang Kepala BPS, Kecuk Suhariyanto, Rabu (15/7/2020).Sementara impor nonmigas Juni 2020 mencapai USD 10,09 miliar atau naik 29,64 persen dibandingkan Mei 2020. Dibandingkan Juni 2019 juga naik 3,12 persen.

Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–Juni 2020 adalah Tiongkok senilai USD 18,14 miliar (28,63 persen), Jepang USD 6,09 miliar (9,61 persen), dan Singapura USD 4,21 miliar (6,64 persen).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor Indonesia pada Juni 2020 mencapai USD 12 miliar. Angka ini meningkat 15,09 persen jika dibandingkan Mei 2020 yang sebesar USD 10,53 miliar.

Kepala BPS, Kecuk Suhariyanto mengatakan capaian tersebut terjadi karena peningkatan migas sebesar 3,80 persen. Namun, lanjut Kecuk, untuk ekspor nonmigas jauh lebih tinggi yakni 15,73 persen.

Baca Juga : Inilah Kelebihan Produk Slot Joker123 On line

Jika dibandingkan pada periode yang sama pada 2019, nilai ekspor Juni 2020 tumbuh 2,2 persen dengan ekspor yang tumbuh ada non migas naik sebesar 3,63 persen. Di sisi lain, ekpor migasnya mnegalami penurunan 18,52 persen karena ada penurunan ekspor minyak mentah, penurunan ekspor hasil minyak dan juga gas.

“Tetapi kalau dilihat disini, perkembangan ekspor bulan ini sangat menggembirakan karena mtm-nya naik 15,09 persen, yan yoy nya naik 2,28 persen,” ujarnya alam video conference di Jakarta, Rabu (15/7/2020).

“Ini tentunya tren yang sangat menggembirakan. Dan kita berharap bahwa ekspor kita ke depan akan terus naik dan peningkatan in tidak hanya terjadi di bulan Juni tetapi juga di bulan -bulan berikutnya,” sambung Kecuk.