Harga Komoditas Menekan Perlemahan Ekonomi China

Harga Komoditas Menekan Perlemahan Ekonomi China

Harga Komoditas Menekan Perlemahan Ekonomi China – Setelah melewati beberapa tahap proses dalam penyaringan,akhirnya kami dapat menyempurnakan artikel yang sudah kami kumpulkan dengan data-data dari sumber yang terpercaya mengenai harga komoditas menekan perlemahan ekonomi china.

“Harga komoditas non migas turun qtoq atau yoy. Penurunan terjadi pada komoditas pangan dari kuartal III ke kuartal IV seperti minyak kelapa, kelapa sawit dan ikan,” kata Kepala BPS Suhariyanto di Kantor Pusat BPS, Jakarta Pusat, Rabu (6/2/2019).

Selain itu, harga komoditas migas juga mengalami penurunan secara kuartalan seperti harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) sebesar US$ 65,12 per barel di kuartal IV dari sebelumnya US$ 71,64 per barel di kuartal III.

Bank Indonesia (BI) menilai perekonomian Indonesia tahun ini masih akan terdampak ketegangan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara menjelaskan memang perang dagang sempat mereda karena kedua pimpinan negara seperti Presiden Donald Trump dan Xi Jinping melakukan negosiasi.

Mirza menjelaskan, meskipun saat ini ekonomi RI sedang dalam kondisi baik, namun akan terpengaruh dengan perlambatan ekonomi China yang diprediksi terjadi akibat perang dagang.

Tahun 2018 ekonomi China tercatat tumbuh 6,6% lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya 6,9%.

“Jika melihat ekonomi Indonesia ke depan diharapkan bisa lebih baik dibandingkan 2013 dan 2018, namun lemahnya ekonomi China akan berdampak ke harga komoditas,” ujar Mirza dalam acara diskusi di Hotel Ritz Carlton, Senin (11/3/2019).

Baca Juga:Mengenal Penentuan Harga Pokok Produksi

Mantan kepala eksekutif LPS ini mengungkapkan karena itu perekonomian Indonesia harus memiliki inovasi baru sehingga tak bergantung pada komoditas. Misalnya meningkatkan kualitas pariwisata seperti Thailand yang berhasil mendatangkan 34 juta turis mancanegara untuk mengurangi defisit neraca transaksi berjalan.

Mirza menyebut saat ini Indonesia masih mengalami defisit sekitar 3% pada 2018. Menurut dia, jika defisit terjadi maka dibutuhkan aliran modal asing yang masuk ke Indonesia. Misalnya pemerintah harus menggenjot ekspor dan pariwisata.

Pada 2017 jumlah turis asing yang datang ke Indonesia mencapai 14 juta orang.

“Saya percaya diri Indonesia pariwisatanya bisa meningkat. Tetapi juga korporat bisa melakukan ekspor untuk membantu mengurangi defisit,” jelas dia.

Dia menyebutkan, tahun ini defisit transaksi berjalan ditargetkan berada di kisaran 2,5%.