Gas Alam

Gas Alam

Gas Alam – Gas alam sering juga disebut sebagai gas Bumi atau gas rawa, adalah bahan bakar fosil berbentuk gas yang terutama terdiri dari metana CH4). Ia dapat ditemukan di ladang minyak, ladang gas Bumi dan juga tambang batu bara. Ketika gas yang kaya dengan metana diproduksi melalui pembusukan oleh bakteri anaerobik dari bahan-bahan organik selain dari fosil, maka ia disebut biogas. Sumber biogas dapat ditemukan di rawa-rawa, tempat pembuangan akhir sampah, serta penampungan kotoran manusia dan hewan.

Manfaat Gas Alam

Pemanfaatan gas alam di Indonesia dimulai pada tahun 1960-an di mana produksi gas alam dari ladang gas alam PT Stanvac Indonesia di Pendopo, Sumatera Selatan dikirim melalui pipa gas ke pabrik pupuk Pusri IA, PT Pupuk Sriwidjaja di Palembang. Perkembangan pemanfaatan gas alam di Indonesia meningkat pesat sejak tahun 1974, di mana PERTAMINA mulai memasok gas alam melalui pipa gas dari ladang gas alam di Prabumulih, Sumatera Selatan ke pabrik pupuk Pusri II, Pusri III dan Pusri IV di Palembang.

Karena sudah terlalu tua dan tidak efisien, pada tahun 1993 Pusri IA ditutup,dan digantikan oleh Pusri IB yang dibangun oleh putera-puteri bangsa Indonesia sendiri. Pada masa itu Pusri IB merupakan pabrik pupuk paling modern di kawasan Asia, karena menggunakan teknologi tinggi. Di Jawa Barat, pada waktu yang bersamaan, 1974, PERTAMINA juga memasok gas alam melalui pipa gas dari ladang gas alam di lepas pantai (off shore) laut Jawa dan kawasan Cirebon untuk pabrik pupuk dan industri menengah dan berat di kawasan Jawa Barat dan Cilegon Banten. Pipa gas alam yang membentang dari kawasan Cirebon menuju Cilegon, Banten memasok gas alam antara lain ke pabrik semen, pabrik pupuk, pabrik keramik, pabrik baja dan pembangkit listrik tenaga gas dan uap.

Selain untuk kebutuhan dalam negeri, gas alam di Indonesia juga di ekspor dalam bentuk LNG (Liquefied Natural Gas)

Salah satu daerah penghasil gas alam terbesar di Indonesia adalah Aceh. Sumber gas alam yang terdapat di daerah Kota Lhokseumawe dikelola oleh PT Arun NGL Company. Gas alam telah diproduksikan sejak tahun 1979 dan diekspor ke Jepang dan Korea Selatan. Selain itu di Krueng Geukuh, Nanggröe Aceh Barôh (kabupaten Aceh Utara) juga terdapat PT Pupuk Iskandar Muda pabrik pupuk urea, dengan bahan baku dari gas alam.

Harga Gas Alam

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengakui harga gas bumi untuk industri sulit turun ke level US$ 6 per mmbtu. Padahal pemerintah sudah berupaya mengurangi penerimaan negara bukan pajak (PNBP).

Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengatakan harga gas bumi hanya bisa turun US$ 0,3 hingga US$ 0,7 per mmbtu meskipun pemerintah sudah memotong PNBP sebanyak US$ 4,3 juta atau Rp 57 miliar. “Penurunan PNBP itu tidak membuat harga gas di bawah US$ 6 per MMBTU,” kata dia di Jakarta,

Padahal mengacu Perpres 40 tahun 2016, harga gas bumi ditetapkan tidak lebih dari US$ 6 per MMBTU. Pasal 3 menyebutkan jika harga gas bumi tidak dapat memenuhi keekonomian industri dan lebih tinggi dari US$ 6 per MMBTU, Menteri ESDM dapat menentukannya.

Rencananya ada empat industri yang akan mendapat penurunan harga. Mereka adalah oleochemical, keramik, kaca dan sarung tangan. Empat industri itu terdiri dari 80 perusahaan. Namun pemakaian gas 80 perusahaan itu tidaklah besar, yakni hanya sebesar 21 juta kaki kubik per hari (mmscfd).

Arcandra mengatakan pemerintah juga tidak bisa memangkas harga gas bumi dengan memotong keuntungan kontraktor hulu. Alasannya kontraktor sudah mengeluarkan investasi untuk mencari gas. “Apalagi kalau hulunya dikurangi,” ujar dia.

Untuk itu keputusan penurunan harga gas empat industri itu kini masih dievaluasi oleh Kementerian Keuangan. “Makanya Bu Menteri Keuangan Sri Mulyani menghitung,” kata Arcandra.

(Baca: 9 Pabrik Tutup, Pengusaha Tagih Janji Pemerintah Turunkan Harga Gas)

Ke depan, pemerintah juga akan menggelar rapat koordinasi yang melibatkan Kementerian Bidang Perekonomian dan kementerian terkait lainnya. “Mohon kiranya yang mau harga gas turun bantu pemerintah,” ujar dia.

Related posts