Ekspor Kepiting Mimika Sampai Rencana Ekspor Kerang

Ekspor Kepiting Mimika Sampai Rencana Ekspor Kerang

daftarhargakomoditas.web.id Mulai dari ekspor kepiting yang bisa tembus sampai ke pasar Malaysia dan Singapura,KKP berencana menembak pasaran kerang sampai ke Uni Eropa.Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Ekspor Kepiting Mimika Sampai Rencana Ekspor Kerang. Berikut ini akan kami berikan beberapa ulasan dan pembahasan yang berkaitan mengenai Ekspor Kepiting Mimika Sampai Rencana Ekspor Kerang

Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) Kabupaten Mimika, Papua, menunjukkan perkembangan dan dampak positif terhadap ekonomi perikanan masyarakat setempat.SKPT yang berlokasi di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Paumako ini telah menjadi daya tarik bagi kapal-kapal ikan berukuran besar untuk singgah dan melakukan aktivitas bongkat muat hasil perikanan.

“Hadirnya SKPT Mimika ini telah memberikan dampak positif dan memiliki efek berganda (multiplier effect) bagi kegiatan ekonomi di sekitar pelabuhan,” ungkap Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Agus Suherman, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (4/2/2020).Dia menambahkan, perkembangan yang menarik bahwa dari SKPT Mimika ini sudah berhasil melakukan ekspor produk kepiting ke beberapa negara, yaitu Malaysia dan Singapura.“Pada Desember 2019 telah diekspor sebanyak 476 ekor ke Singapura senilai Rp 133,28 juta dan 120 ekor ke Malaysia dengan nilai Rp 33,6 juta. Sementara, pada awal Januari 2020 juga telah diekspor sebanyak 1.380 ekor kepiting hidup ke Malaysia dengan nilai Rp 386,4 juta,” kata dia.

Sementara, catatan produksi ikan selama periode 2016-2019 di SKPT Mimika juga menunjukkan peningkatan yang signifikan. Berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Mimika mencatat volume produksi di SKPT Mimika pada tahun 2016 hanya sebesar 4.907 ton, kemudian pada 2018 mengalami peningkatan secara signifikan menjadi 20.587 ton, dan sampai November 2019 saja produksinya sudah mencapai 23.999 ton.Dalam kesempatan peninjauan operasional SKPT Mimika pada Rabu (29/01) lalu, Direktur Jenderal PDSPKP, Agus Suherman, berkesempatan melihat langsung pemanfaatan bantuan pemerintah yang sudah diberikan.Setidaknya, Pemerintah melalui KKP telah memberikan bantuan, antara lain berupa kapal penangkap ikan beserta alat tangkapnya, cool box, sarana pengolahan, chest freezer, ice flake machine, gudang beku kapasitas 100 dan 200 ton, kendaraan berpendingin, mobil crane, serta fasilitas tambat labuh kapal kecil.

“Dari laporan dan hasil pengamatan secara langsung, bantuan-bantuan yang kita berikan sudah termanfaatkan secara optimal,” ujar Agus SuhermanPemanfaatan bantuan oleh nelayan, seperti kapal dan alat penangkap ikan telah berkontribusi dalam menambah volume tangkapan sebesar 14,04 ton pada periode Desember 2018-Agustus 2019. Lebih lagi bantuan tersebut mendorong peningkatan pendapatan rata-rata penerima bantuan sebesar Rp2 juta per bulan.Awalnya pada musim udang, nelayan hanya menerima pendapatan sekitar Rp2.5 juta-3 juta dan setelah menggunakan bantuan kapal dan alat penangkap ikan menjadi sekitar Rp4.5 juta-Rp5 juta per bulan.Menurut Agus, keberadaan SKPT Mimika telah mampu mengintegrasikan proses bisnis kelautan dan perikanan berbasis masyarakat yang sudah mulai berjalan di PPI Pamaoko.

“Saat ini, sudah ada tiga pelaku usaha (offtaker) yang menampung hasil tangkapan nelayan yaitu Koperasi Perikanan Mbiti, UD. Arafura dan BUMN Perikanan PT Perikanan Nusantara (Perinus). Untuk Koperasi Mbiti, selain sebagai offtaker juga sudah menjual es hasil dari Ice Flake Machine. Koperasi ini juga secara kontinyu telah melakukan ekspor udang dari hasil tangkapan nelayan sekitar,” terang Agus.”Ikan dari nelayan sudah bisa kita beli dengan harga yang lebih bagus. Contoh ikan Mackerel yang sebelumnya 5-6 ribu per kilo, sekarang mampu dibeli oleh BUMN perikanan Perinus dan Koperasi seharga 8-9 ribu,” kata dia.

Baca Juga : Hubungan Ekspor Indonesia Dan China

Untuk BUMN Perikanan PT Perinus saat ini telah merampungkan dokumen perizinan dan sementara proses sertifikasi ekspor hasil perikanan, sehingga dalam waktu dekat ini akan siap ekspor produk perikanan seperti ikan pelagis kecil, ikan demersal, loin beku, loin segar, kepiting hidup dan udang beku.Saat ini Kementerian Kelautan dan Perikanan sedang mengupayakannya bisa melakukan ekspor ke Uni Eropa dengan melakukan evaluasi dan pengawasan. Evaluasi ini dilakukan karena memang sebelumnya ada pelarangan ekspor karena faktor pencemaran lingkungan.Menteri KKP Edhy Prabowo menyatakan, pihaknya sedang melakukan upaya agar pelarangan ekspor kerang ke Uni Eropa itu bisa dicabut. Seperti dilihat, negara-negara yang sama seperti Indonesia kena pelarangan, yakni Kamboja dan Thailand, dua negara itu bisa keluar dan bisa ekspor.

“Nah kita mau cari tahu masalahnya seperti apa bagaimana cara mengeluarkan, saya minta riset dan saya minta untuk mencari tahu masalah utamanya, kan ini kan sudah lama dan harusnya segera kita selesaikan biar kita bisa masuk ke ekspor ke Uni Eropa,” ungkap Edhy kepada awak media saat ditemui dalam acara Rapat Kerja Pengawas (Rakerwas) di Gedung Mina Bahari III, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta (4/2/2020).Saat ini pihaknya masih dalam tahap diskusi dengan yang terkait untuk mengupayakan larangan ekspor itu cepat dicabut.”Kami masih melakukan loby kami minta, BKIPM (Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan) aktif. Kan yang menentukan kualitas produk ini BKIPM salah satunya yang merilis budidaya dan riset, kami meminta untuk membackup dengan datanya. Jadi semua potensi akan kami lakukan,” ungkapnya.

Terkait jumlah ekspor kerang nanti, Edhy tidak menyebutkan berapa jumlah pastinya. Menurutnya masih belum jelas. Namun, kini Jepang sudah membuka pasar melalui Natuna untuk memperoleh ikan.Ia berharap dengan adanya kerjasama bisnis kerang tersebut, akan terus berkembang termasuk sampai ke pariwisata. Hal itu bagus untuk mengembangkan potensi lahan yang luar biasa, yang terpenting sekarang memfokuskan bagaimana cara mengoptimalkan kerjasama tersebut.”Dioptimalkan dalam waktu dekat mereka akan ngirim tim kunjungan ke sana (Natuna), saya juga pernah ketemu Dubes Jepang, mereka juga dengan tim ekonomi dari Jepang akan hadir akan dibawa ke sana, mungkin kalau ada waktu akan berangkat ke sana kalau tidak ya Irjen,” pungkasnya.

Related posts