Daging Sapi

Daging Sapi

Daging Sapi – Daging sapi (Bahasa Inggris: beef) adalah daging yang diperoleh dari sapi yang biasa dan umum digunakan untuk keperluan konsumsi makanan. Di setiap daerah, penggunaan daging ini berbeda-beda tergantung dari cara pengolahannya. Sebagai contoh has luar, daging iga dan T-Bone sangat umum digunakan di Eropa dan di Amerika Serikat sebagai bahan pembuatan steak sehingga bagian sapi ini sangat banyak diperdagangkan. Akan tetapi seperti di Indonesia dan di berbagai negara Asia lainnya daging ini banyak digunakan untuk makanan berbumbu dan bersantan seperti sup konro dan rendang.

Selain itu ada beberapa bagian daging sapi lain seperti lidah, hati, hidung, jeroan dan buntut hanya digunakan di berbagai negara tertentu sebagai bahan dasar makanan.

Daging sapi yang sudah ditrimming atau dihilangkan lemaknya mengandung banyak zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh dan merupakan sumber protein yang sangat baik (mempunyai nilai biologis tinggi, high digestible 94%), sumber omega-3 rantai panjang (DHA, EPA and DPA), lemak tak jenuh, vitamin B12, niasin, vitamin B6, vitamin B5, vitamin D, riboflavin, zat besi (terserap dengan cepat dan baik dibanding zat besi dari pangan nabati), seng, fosforus, selenium, mengandung kadar lemak yang relatif rendah, dan memiliki kadar komposisi kolesterol yang sesuai untuk tubuh. Selain zat gizi tersebuat daging tanpa lemak kaya akan sumber antioksidan dan senyawa bioaktif seperti taurin, karnitin, CLA (conjugated linoleic acid), carnosin, glutathione, kreatin, dan kolin.

Harga Daging Sapi

Seperti halnya pemerintah negara lain di dunia, Pemerintah Indonesia memiliki keprihatinan dalam persoalan ketahanan pangan. Tingkat impor daging sapi dan sapi hidup terus meningkat dan menjadi sangat tinggi pada tahun 2009/2010 yang mengakibatkan penurunan harga sapi potong lokal secara bertahap. Memang beralasan bila para pengusaha peternakan sapi Indonesia mengeluh mengenai persoalan ini sehingga pemerintah menanggapinya dengan menerapkan kuota impor, yang secara dratis mengurangi tingkat impor. Harga daging sapi pun pulih dan para pengusaha peternakan sapi sangat berterima kasih kepada para pembuat kebijakan. Sejauh ini, semuanya berjalan baik.

Baca Juga :

Emas
Perak

Di hampir semua negara yang memiliki industri daging sapi, harga dalam negeri yang lebih tinggi, didukung oleh kebijakan pemerintah yang membatasi impor sepatutnya menjadi lampu hijau bagi para produsen ternak sapi untuk membangun kembali populasi sapinya demi memetik manfaat dengan meningkatkan keuntungan.

Dalam kenyataannya, para produsen sapi malah melakukan hal sebaliknya, sebab industri daging sapi Indonesia sesungguhnya bukanlah industri. Tujuan utama sebagian besar peternak di Indonesia memelihara sapi potong pertama-tama adalah sebagai tabungan, yang kedua sebagai asuransi atau jaminan sosial, ketiga, sebagai hewan pekerja dan sarana transportasi, dan akhirnya yang kurang penting adalah sebagai bagian dari sistem produksi daging sapi.

Sensus yang dilakukan pada tahun 2013 mengindikasikan bahwa populasi ternak sapi dan kerbau nasional berjumlah 14 juta ekor. Jika dikurangi dengan setengah juta ekor sapi perah, dikurangi lagi dengan kerbau dan sapi Bali, maka jumlah aktual sapi pedaging mungkin antara 12 sampai 13 juta ekor. Sensus yang sama juga mengindikasikan bahwa hanya sekitar 1 juta ekor dari sapi-sapi ini dikuasai oleh para investor sapi dalam perusahaan skala besar sementara 11-12 juta ekor sisanya berada dalam tangan peternak usaha skala kecil dengan rata-rata jumlah sapi sekitar 2 ekor per peternak. Dengan demikian, usaha peternakan skala kecil menjadi penyedia utama produksi daging sapi dalam negeri di Indonesia. Namun, karena para pternak ini memiliki cara pandang yang unik dan berbeda terhadap usaha peternakan sapi, maka kebijakan-kebijakan pemerintah yang semestinya menghasilkan peningkatan produksi malah tidak berfungsi

Related posts